Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Rabu, 23 Juni 2010

Tugas Resume Kinesiologi

Kinesiologi: Ilmu yang mempelajari tentang gerak dalam tubuh manusia.
Sendi: semua persambungan tulang, baik yang memungkinkan tulang dapat bergerak satu sama lain atau tidak.
Osifikasi: proses pembentukan tulang
Pembentukan tulang rawan terjadi segera setelah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bagian tengah batang tulang rawan, merangsang sel-sel perichondrium berubah menjadi osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium berubah menjadi periosteum. Bersamaan dengan proses ini pada bagian dalam tulang rawan di daerah diafisis yang disebut juga pusat osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) akibatnya zat kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menyebabkan kematian pada sel-sel tulang rawan ini. Kemudian akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke daerah ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang.
Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki daerah epiphise sehingga terjadi pusat osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersisa tulang rawan dikedua ujung epifise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise.

Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus-menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di daerah diafise, dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter (lebar) tulang, tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada saat yang bersamaan osteoblas di periosteum membentuk lapisan-lapisan tulang baru di daerah permukaan.
Dikenal 2 jenis penggantian pembentukan tulang:
Enkondral: Dimulai dengan tulang rawan, dan terjadi pada epifisis.
Perikondral: Berasal dari pericondrium, terbatas pada diafisis.
Discus Epifisis (lempeng pertumbuhan) yang diperlukan untuk pertumbuhan panjang, membentuk lapisan antara epifisis dan diafisis.
Didalam tulang rawan epifisis, terjadi proses-proses ossificasi dalam zona-zona yang terpisah.
Pertama, pada epifisis terdapat zona capping, zat tulang rawan hialin yang tidak dipengaruhi oleh pembentukan tulang. Dekat daerah ini “tulang rawan istirahat”, ini adalah zona kolum-kolum sel tulang rawan, zona pertumbuhan. Disini sel-sel tulang rawan membelah sehingga jumlahnya bertambah.
Lapisan berikutnya, yang terletak lebih dekat dengan batang adalah zona sel-sel tulang rawan vasicular besar, dimana terjadi clasivicasi.
Ini dilanjutkan dengan zona distruksi tulang rawan, dimana tulang rawan dipecahkan oleh kondroklas-kondroklas dan diganti oleh osteoblas yang membentuk tulang.
Sisa tulang rawan yang menetap, yang memungkinkan dibezakannya tulang endokondral dari tulang perikondral pada diafisis. Ia secara skunder diganti oleh tulang perikondral.
Tulang endokondral dihancurkan oleh osteoklas-osteoklas yang mengalami imigrasi.
Penambahan tebal pada darah diafisis diakibatkan oleh pengendapatan bahan tulang baru pada permukaan luar dibawah lapisan kembium periosteum.
Rongga sumsum tulang menjadi lebih besar sebagai akibat destruksi tulang.
Semua proses pertumbuhan diatur oleh hormon-hormon.
Bakal tulang pada epifisis pertama timbul setelah lahir, kecuali untuk epifisis distal femur dan epifisis proksimal tibia.
Pada kedua epifisis ini dan pada oscuboideum, osteogenesis mulai tepat sebelum kelahiran pada bulan kesepuluh intrauteri (tanda kematangan)\

Jenis – jenis tulang
Tulang rawan (kartilago)

Bersifat bingkas dan lentur serta terdiri atas sel- sel rawan yang dapat menghasilkan matriks berupa kondrin. Pada anak – anak jaringan tulang rawan banyak mengandung matriks. Pada orang dewasa tulang rawan hanya terdapat pada beberapa tempat , misalnya cuping hidung, cuping telinga, antara tulang rusuk dan tulang dada, sendi- sendi tulang, antar ruas tulang belakang, pada cakra epifis. Matriks tulang rawan merupakan campuran protein dengan polisakarida yang disebut kondrin.
Tulang rawan ada tiga tipe yaitu: hialin, elastik dan serat

1)Tulang Rawan Hialin
Matriksnya memiiki serat kolagen yang tersebar dalam bentuk anyaman halus dan rapat. Terdapat pada saluran pernapasan dan ujung tulang rusuk. Tulang rawan hialin bening seperti kaca

2)Tulang Rawan Elastik
Susunan polikandrium, matriks , sel dan lacuna tulang rawan elastic sama dengan tulang rawan hialin. Akan tetapi serat kolagen tulang rawan elastic tidak tersebar dan nyata seperti pada tulang rawan hialin. Bentuk serat – serat elastic bergelombang. Tulang rawan elastic terdapat pada epiglottis dan bagian luar telinga.

3)Tulang Rawan Fibrosa (Fibrokartilago) / Serat
Matriksnya mengandung serabut kolagen kasar dan tidak teratur; terletak di perlekatan ligamen, sambungan tulang belakang, dan simfisis pubis. Sifat khas dari tulang rawan ini adalah lakuna – lakunanya bulat atau bulat telur dan berisi sel – sel (kondrosit).

Tulang (osteon)
Bersifat keras dan berfungsi menyusun berbagai sistem rangka.tersusun dari bagian – bagian sebagai berikut:
a. Ostreoprogenator, merupakan sel khusus yaitu derivate mesenkima yang memiliki potensi mitosis yang mampu berdiferensiasi menjadi osteoblas terdapat dibagian luar membrane (periosteum)
b. Osteoblas merupakan sel tulang muda yang akan membentuk osteosit.
c. Osteosit merupakan sel – sel tulang dewasa
d. Osteoklas merupakan sel yang berkembang dari monosit dan terdapat disekitar permukaan tulang . fungsi osteoklas untuk perkembangan, pemeliharaan , perawatan dan perbaikan tulang.

Hubungan Antar Tulang
Hubungan antar tulang disebut artikulasi. Untuk dapat bergerak dibutuhkan struktur khusus yang terdapat pada artikulasi, Struktur khusus tersebut dinamakan sendi.terbentuknya sendi dimulai dari kartilago didaerah sendi. Terbentuknya sendi dimulai dari kartilago didaerah sendi. Mula – mula kartilago akan membesar lalu kedua ujungnya akan diliputi jaringan ikat. Kemudian kedua ujung kartilago akan membentuk sel –sel tulang , keduanya diselaputi oleh selaput sendi (membrane sinoval) yang liat dan menghasilkan minyak pelumas tulang yang disebut sinoval.

Sinartrosis
Adalah hubungan antar tulang yang tidak memiliki celah sendi, hubungan antar tukang ini dihubungkan dengan erat oleh jaringan serabut sehingga sam sekali tidak bisa digerakkan. Ada dua tipe utama sinartrosis, yaitu suture dan sinkrondosis.

Suture adalah hubungan antar tulang yang dihubungkan dengan jaringan ikat serabut padat, contohnya pada tengkorak. Sikondrosis adalah hubungan antar tulang yang dihubungkan oleh kartilago hialin, contohnya hubungan antara epifisis dan diafisis pada tulang dewasa; hubungan antar tulang ini tidak dapat digerakkan.

Amfiartrosis
Adalah sendi yang dihubungkan oleh kartilago sehingga memungkinkan untuk sedikit gerakan. Dibagi menjadi dua, yaitu simfisis dan sindesmosis. Pada simfisis sendi dihubungkanoleh kartilago serabut yang pipih, contohnya pada sendi antar tulang belakang, dan pada tulang kemaluan. Pada sindesmosis, sendi dihubungkan oleh jaringan ikat serabut dan ligament. Contohnya sendi anatar tulang betis dan tulang kering.

Diartosis
Adalah hubungan antar tulang yang kedua ujungnya tidak dihubungka oleh jaringan sehingga tulang dapat digerakkan, disebut juga sendi. Diartosis disebut juga hubungan synovial yang dicirikan dengan keleluasaan bergerak dan fleksibel. Diatrosis dicirikan sebagai berikut:
Permukaan sendi dibalut oleh selaput atau kapsul jaringan ikat fibrous.
Bagian dalam kapsul dibatasi oleh membrane jaringan ikat yang disebut membrane synovial yang menghasilkan cairan pelumas untuk mengurangi gesekan
Kapsul fibrousnya ada yang diperkuat oleh ligament dan ada yang tidak,
Di dalam kapsul biasanya terdapat bantalan kartilago serabut.
Hubungan tulang yang bersifat diartrosis contohnya adalah sebagai berikut:

Sendi Peluru
Pada sendi ini kedua ujung berbentuk lekuk dan bongkol. Bentuk ini memungkinkan gerakan yang bebas dan dapat berporos tiga. Misalnya sendi pada gelang bahu dan gelang panggul.

Sendi Engsel
Pada sendi engsel kedua ujung tulang berbentuk engsel dan berporos satu , misalnya pada siku, lutut, nata kaki, dan ruas antar jari.

Sendi Putar
Pada sendi ini ujung yang satu dapat mengitari ujung tulang yang lain. Bentuk seperti ini memungkinkan untuk gerakan rotasi untuk satu poros, misalnya antar tulang hasta dan pengumpil, dan antar tulang atlas dengan tulang tengkorak.

Sendi Ovoid
Sendi ini memungkinkan gerakan berporos dua dengan gerakan kekiri dan kekanan, maju mundur dan muka belakang. Misalnya antar tulang pengumpil dan tulang pergelangan tangan.
Sendi Pelana atau Sela
Pada sendi ini kedua ujung tulang membentuk sendi berbentuk pelana dan berporos dua, tetapi dapat bergerak lebih bebas, seperti gerakan orang naik kuda. Misalnya sendi antar tulang telapak tangan dan tulang pergelangan tangan dan ibu jari.

Sendi luncur
Kedua ujung tulang agak rata sehingga menimbulkan gerakan menggeser dan tidak berporos, contohnya sendi antar tulang pergelangan tangan, antar tulang pergelangan kaki, antar tulang selangka dan tulang belikat.

macam-macam dalam gerakan anatomi

1. Flekxio/ Flexie/ Fleksi = pengetulan, memperkecil sudut, contoh: menekuk tangan.

2. Extenxio/ Extenxie/ Ekstensi = pengedangan, penglurusan, memperbesar sudut.

  • Anteflexie/ antefleksio/ antefleksi = pembengkokan, fleksi ke depan
  • Retroflekxie/ retroflexio/ retrofleksi = pembengkokan, fleksi ke belakang
  • Lateroflexie/ lateroflexio/ laterofleksi = pembengkokan, kesamping

3. Adductio/ adductie/ aduksi = mendekatkan ke bidang media atau gerak ke tengah

4. Abductie/ abductio/ abduksi = menjauhkan dari bidang media

5. Rotasi = perputaran atau gerakan mengelilingi garis panjangnya sendiri

  • Endorotasi = rotsi ke dalam atau gerak kisar kedalam
  • Eksorotasi = rotasi keluar atau gerak kisar keluar
  • Pronasi = rotasi ke dalam lengan bawah(telapak tangan di bawah)
  • Supinasi = rotasi keluar lengan bawah (telapak tangan di atas)

6. Circumduksio = gerak lingkar/ gerak kombinasi dari fleksi-ekstensi, aduksi- abduksi, hingga gerakan itu melukiskan kerucut. contoh: tangan lurus kemudian putar 360 hingga membentuk kerucut.

7. Torsio = Rotasi badan contoh pada olahraga lempar cakram.

Gerakan pada skapula:

  • Elevasi = skapula bergeser melalui thorax ke atas.
  • Detraksi = skapula bergeser ke bawah
  • Protaksi = skapula bergeser melalui thorax ke depan
  • Retrotraksi = skapula bergeser melalui thorax ke arah ruas tulang belakang
  • Latero Rptasi = angulus inferior dari skapula berputar ke luar
  • Medio Rotasi = angulus inferior dari skapula berputar ke dalam

bidang dan sumbu dalam antomi

Bidang:

  1. Bidang Frontal = bidang yang sejajar dengan bidang yang membagi tubuh menjadi dua bagian yaitu depan (ventral) dan belakang (dorsal).
  2. Bidang Sagital = bidang yang sejajar dengan bidang yang membagi tubuh menjadi dua bagian yaitu kanan dan kiri.
  3. Bidang Transversal = bidang yang memotong panjang tubuh secara melintang dan membagi tubuh menjadi dua yaitu atas dan bawah.

Sumbu:

  1. Sumbu Frontal/ Transversal = garis potong antara bidang frontal dan transversal yaitu dari kiri dan kanan (-X, +X)
  2. Sumbu Sagital = garis potong antara bidang sagital dan transversal, yaitu ventral dan dorsal (-Z, +Z)
  3. Sumbu Longitudinal = garis potong antra frontal dan sagital, garis yang sejajar dedngan panjang tubuh (-Y,+Y)
sumber : http://ayinosa31.wordpress.com

jenis pengungkit pada kinesiologi

Pengungkit adalah suatu alat yang digunakan untuk merubah arah gerak terhadap sumbu putaran. Pengungkit tergantung pada sumbu putaran, babaen dan gaya.

Jenis Pengungkit:

1. Pengungkit I = sumbu putaran terletak antara beban dan gaya. contoh: gerakan ekstensi, gerakan mengangguk-angguk.
2. Pengungkit II = beban terletak antara gaya dan sumbu putaran. contoh saat kita jinjit
3. Pengungkit III = gaya terletak antara beban dan sumbu putaran. contoh: fleksi sendi siku (articulatio cubiti)

Tulang dan sendi ( KINESIOLOGI )

TULANG

  • Pembentukan Tulang

Osifikasi atau yang disebut dengan proses pembentukan tulang telah bermula sejak umur embrio 6-7 minggu dan berlangsung sampai dewasa. Osifikasi dimulai dari sel-sel mesenkim memasuki daerah osifikasi, bila daerah tersebut banyak mengandung pembuluh darah akan membentuk osteoblas (os-tulang,blast- sel-sel muda yang belum matang) bila tidak mengandung pembuluh darah akan membentuk kondroblas.

Pembentukan tulang rawan terjadi segera setelah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bagian tengah batang tulang rawan, merangsang sel-sel perichondrium berubah menjadi osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium berubah menjadi periosteum. Bersamaan dengan proses ini pada bagian dalam tulang rawan di daerah diafisis yang disebut juga pusat osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) akibatnya zat kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menyebabkan kematian pada sel-sel tulang rawan ini.

Kemudian akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke daerah ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang.

Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki daerah epiphise sehingga terjadi pusat osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersisa tulang rawan dikedua ujung epifise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise.

Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus-menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di daerah diafise, dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter (lebar) tulang, tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada saat yang bersamaan osteoblas di periosteum membentuk lapisan-lapisan tulang baru di daerah permukaan.

Dibandingkan dengan bagian-bagian tubuh yang lain, tulang-tulang tumbuh sangat cepat pada tahun-tahun pertama pertumbuhan dan masa dewasa. Oleh karena itu pada masa kanak-kanak yang masih mengalami pertumbuhan, latihan hanya diperbolehkan yang ringan-ringan saja dan tidak melebihi berat badannya. Pada kenampakan tulang-tulang yang tumbuh apabila dilihat menggunakan mikroskop terlihat sel-sel tulang kecil (osteosit) yang tyerletak di dalam jaringan berisi serat-serat kolagen yang bersifat sangat tahan terhadap tekanan, garam-garam anorganic (yang menyebabkan kerasnya tulang) dan garam-garam ortganik yang menyebabkan kelenturan terhadap tulang. Perbandingan antara garam anorganik dan organic pada bayi adalah 1:1, tetapi akan berubah sehingga pada usis 60-70 tahun perbandingan tersebut menjadi 7:1. Hal ini menyebabkan tulang-tulang muda lentur (elastic), sedangkan tulang-tulang tua akan mudah/rentan patah.

Pada kenampakan penampang tulang dengan lapisan periosteum dan alat-alat yang ada di dalamnya terdapat sel-sel tulang yang tersusun secara sirkular dalam beberapa lapisan di sekeliling saluran Havers, yang dilalui pembuluh darah kecil. Pembuluh darah ini member makanan pada lapisan tersebut. Seluruh lapisan ini disebut system Havers atau osteon. Lapisan luar tulang berupa lembar-lembar memanjang (longitudinal). Dalam tiap-tiap lembar ini, serabut-serabut kolagen mengarah ke berbagai jurusan dan hal ini akan menambah kekuatan tulang tersebut. Tiap-tiap lembar tulang dibentuk oleh osteon-osteon. Mendekati rongga sumsum tulang, tulang kompak (padat) menjadi bagian tulang spongiosa. Di antara tulang kmompak dan jaringan ikat spongiosa terdapat batang-batang atau lempeng-lempeng yang menyebabkan tulang-tulang tersebut sangat kuat.

SENDI DAN PERSENDIAN

Sendi merupakan hubungan antartulang sehingga tulang dapat digerakkan. Hubungan dua tulang disebut persendian (artikulasi).

  • Komponen Penunjang Sendi:
  • Kapsula sendi adalah lapisan berserabut yang melapisi sendi. Di bagian dalamnya terdapat rongga.
  • Tulang rawan hialin (kartilago hialin) adalah jaringan tulang rawan yang menutupi kedua ujung tulang. Berguna untuk menjaga benturan.
  • Cairan sinovial adalah cairan pelumas pada kapsula sendi.
  • Macam-Macam Sendi

Pada prinsipnya semua hubungan tulang pada tubuh manusia (kerangka badan) dapat dibedakan menjadi:

  1. Synarthrosis/Sendi Fibrous

Synarthrosis adalah:

  • Hubungan atau persambungan tulang yang tidak memiliki ruang sendi.
  • Sendi yang terjadi oleh adanya kesinambungan sehingga di antara kedua ujung tulang yang bersendi terdapat suatu jaringan.
  • Sendi nyang berwujud tulang-tulang yang bersambungan satu sama lain secara terusan/kotinyu dengan perantara sepotong jaringan penunjang.

Ciri-ciri dari Synarthrosis adalah sebagai berikut:

  • Tidak memiliki ruang sendi (cavum articulare), sehingga juga tidak memiliki capsula, membrane dan synovial.
  • Kedua tulang dihubungkan oleh substansi antara yang dapat berupa jaringan fibrous, cartilago atau tulang.

Gambar1. Synarthrosis

Jaringan penunjang yang menghubungkan persendian itu ada 3, yaitu:

  1. Syndesmosis

Syndesmosis adalah pertautan tulang yang dihubungkan oleh jaringan ikat fibrosa.

  1. Synchondrosis

Synchondrosis adalah pertautan tulang yang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan.

Subtansi penghubung dari Synchondrosis dapat berypa kartilagi hyaline. Pada umumnya synchondrosis dengan kartilago hyalin adalah persendian sementara yang kemudian hari akan digantikan oleh tulang. Maka hubungan ini synchondrosis ,menjadi synostosis.

  1. Synostosis

Synostosis adalah pertautan tulang yang dihubungkan oleh jaringan tulang. Bisa dikatakan pertautan antara dua buah tulang yang asal mulanya dibangun sebagai dua tulang yang terpisah. Akibat pertumbuhan masing-masing tulang maka berangsu-angsur mereka makin dekat mendekati hingga akhirnya melengket satu sama lain.

  • Sutura

Sutura adalah semacam jahitan dengan jaringan ikat diantara dua tulang yang pipih atau ceper. Sutura tampak jelas diatara pertautan tulang-tulang yang ada pada tengkorak atau Cranium atau kepala.

  • Syndesmosis Elastica
  • Syndesmosis Fibrosa
  1. Diarthrosis

Diarthrosis adalah:

  • Persendian yang bergerak bebas dan terdapat banyak ragamnya dan semua memiliki cirri-ciri yang sama.
  • Persendian dimana hubungan tulangnya disini mempunyai ruang sendi yang disebut Cavum Articulare.
  • Sendi yang dibentuk oleh tulang yang bersambungan diikat dan diselubungi oleh sebuah bungkus dan jaringan ikat.

Diarthrosis pada umunya dapat dibedakan menjadi bagian-bagian sebagai berikut:

  1. Ujung-ujung Sendi

Ujung tulang yang satu berbentuk bongkol/kepala sendi (caput articulare) sedangkan ujung tulang yang lainnya berbentuk cekung atau cawan atau mangkuk sendi (fossa articulare).

  1. Simpai Sendi

Simpai sendi terdiri dari dua lapis yaitu stratum fibrosum luar dan stratum synovale sebelah dalam.

  1. Rongga Sendi (cavum articulare)

Di dalam rongga sendi terdapat synovial atau urap sendi yaitu cairan sendi yang berfungsi untuk melicinkan persendian, terdiri dari cairan dengan garam-garam, mucin, albumin, tetes-tetes lemak, dan dektus cellulair.

Diarthrosis dapat dikelempokkan menjadi:

  • Sendi peluru: persendian yang memungkinkan pergerakan ke segala arah. Contoh: hubungan tulang lengan atas dengan tulang belikat.
  • Sendi pelana: persendian yang memungkinkan beberapa gerakan rotasi, namun tidak ke segala arah. Contoh: hubungan tulang telapak tangan dan jari tangan.
  • Sendi putar: persendian yang memungkinkan gerakan berputar (rotasi). Contoh: hubungan tulang tengkorak dengan tulang belakang I (atlas).
  • Sendi luncur: persendian yang memungkinkan gerak rotasi pada satu bidang datar. Contoh: hubungan tulang pergerlangan kaki.
  • Sendi engsel: persendian yang memungkinkan gerakan satu arah. Contoh: sendi siku antara tulang lengan atas dan tulang hasta.
  1. Amphiarthrosis (Sendi Kejur)

Amphiarthrosis adalah persendian yang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan sehingga memungkinkan terjadinya sedikit gerakan

  • Sindesmosis: Tulang dihubungkan oleh jaringan ikat serabut dan ligamen.

Contoh:persendian antara fibula dan tibia.

  • Simfisis: Tulang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan yang berbentuk seperi cakram.

Contoh: hubungan antara ruas-ruas tulang belakang.

  • Gerakan-gerakan pada Sendi

Berikut ini jenis gerakan pada sendi

  1. Bergeser

Berupa pergeseran antara tulang, contohnya gerakan pada sendi-sendi di antara tulang-tulang carpalia dan tarsalia, terjadi pada sendi geser.

  1. Extensi

Berupa gerakan pelurusan sendi. Extensi bisa terjadi pada sendi engsel, contohnya extensi sendi lutut

  1. Flexi

Berupa gerakan pembengkokan sendi. Flexi terjadi pada sendi engsel, contohnya flexi sendi jari-jari. Sedangkan flexi-extensi pada pergelangan tangan merupakan gerakan sendi ellipsoidal

  1. Abduksi

Berupa gerakan yang menjauhi sumbu tubuh. Terjadi pada sendi peluru, contohnya mengangkat lengan ke samping, atau gerakan ibu jari menjauhi telunjuk oleh sendi pelana di antara metacarpal 1 dan os. Carpal (trapezium)

  1. Adduksi

Berupa gerakan yang mendekati sumbu tubuh, gerakan ini berlawanan dengan gerakan abduksi

  1. Rotasi

Berupa gerakan berputar, terjadi pada sendi putar. Misalnya atlas (cervix 1) berputar terhadap processus odontoideus dari axis (cervix 2) sewaktu menggelengkan kepala.

  1. Circumduksi

Berupa gerakan dimana ujung distal satu tulang membentuk 1 lingkaran, sedangkan ujung proksimalnya tetap. Contohnya gerakan memutar lengan 1 lingkaran mengitari sendi bahu, terjadi pada sendi peluru dengan arah gerakan 3 poros

  1. Pronasi

Gerakan memutar lengan bawah untuk membalikkan telapak tangan, sehingga telapak tangan menghadap ke bawah bila lengan bawah ditaru diatas meja

  1. Supinasi

Gerakan berlawanan dengan pronasi

  1. Protaksi

Gerakan mendorong mendibula ke luar

  1. Retraksi

Gerakan menarik mandibula ke dalam

SUMBER : http://vharsa.wordpress.com

Rabu, 16 Juni 2010

Analisis Gerakan Lempar Cakram

Lempar Cakram

Gerakan Awalan:
1.Tangan



Gerakan
a.Ayunan ke belakang (Ekstensi)
b.Ayunan ke depan (Flexi)
c.Rotasi:
Exorotatie
Endorotatie
d. Scapula:
Retrotraksi
Protaksi
Bidang : Transversal
Sumbu : Longitudinal
Pengungkit
Gerakan Ekstensi Pengungkit III (S G B)
Gerakan Flexie Pengungkit I (G S B)
Sendi
Articulatio Humeri
a)Caput Humeri
b)Cavitas Glenoidalis
Articulatio Cubiti:
a)Articulatio Humeroradialis:
Capitulum Humeri dan Fovea Capituli Radii
b)Articulatio Humeroulnaris:
Trochlea Humeri dan Incisura Semiulnaris
c) Articulatio Radioulnaris Proximali
Articulatio Carpometacarpea:
a)Os. Multangulum majus
b)Os. Metacarpale 1
Articulatio Metacerpophalangea:
a)Capitulum Metacarpal
b)Basis Phalang 1
Articulatio Interphalangea:
a)Trochlea Phalng dibawahnya
b)Basis Phalang diatasnya
Circumferentia Articularis Radii dan Incisura Radialis Ulnae
Articulatio Coxae
a)Caput Femoris
b)Acetabulum
Otot
a.Musculus Pectoralis Major
Origo : Pars Clavicularis pada Extremitas Sternalis Claviculae
Pars Sternalis pada Sternum dan Rawan Iga I – IV
Pars Abdominalis pada Vagina M. Recti Abdominis
Insertio : Crista Tuberculi Majoris
b. Musculus Deltoideus
Origo : Extrimitas Acromialis Claviculae Acromion
Inserto : Tuberositas Deltoidea Humeri
c. Musculus Biceps Brachii
Origo : Caput Longum : Tuberositas Supraglenoidalis
Caput Breve : Processus Coracoideus
Insertio : Tuberositas Radii

2.Kaki

Gerakan
a.Flexie
b.Extentie
Bidang : Transversal
Sumbu : Longitudinal
Pengungkit
a.Flexie Lutut : Pengungkit III (S G B)
b.Jinjit : Pengungkit II (S B G)
c.Extentie Lutut : Pengungkit I (G S B)
Sendi
Articulatio Genu
a.Articulatio Meniscofemoralis Medialis
Meniscus dan Facies Articularis Inferior Condyli Medialis
b.Articulatio Meniscofemoralis Lateralis
Meniscus dan Facias Articularis Inferior Condyli Lateralis
c.Articulatio Meniscotibialis Medialis
Miniscus dan Facies Articularis Superior Condyli Medialis
d.Articulatio Meniscotibialis Lateralis
Meniscus dan Facies Articularis Superior Condyli Lateralis
e.Articulatio Femoropatellaris
Facies Patellaris
Facies Articularis Mediale dan Lateral Patella

Articulatio Talocruralis
a. Facies Articularis Malleoli Lateralis
Facies Articularis Mancolaris Lateralis
b. Facies Articularis Inferior
Trochlea Tali
c. Facies Articularis Malleoli Medialis
Facies Mallcolaris Medialis
Otot
a.M. Quadriceps Femoris
M. Rectus Femoris
Origo : Caput Rectum : spina iliaca anterior inferior
Caput Obliquum : sedikit diatas acetabulum
insertio : Tuberositas tibiae dengan perantaraan lig. patellae
M. Vastus Medialis
Origo : Bagian terbawah linea intertrochanterica labium mediale linea aspera
Insertio : pinggir medial urat lekat m. rectus femoris dan patella
M. Vastus Lateralis
Origo : Permukaan depan dan bawah trochanter major
Insertio : Pinggir lateral urat lekat m. rectus femoris dan patella

M. Vastus Intermedius
Origo : permukaan depan dan lateral femur
Insertio : urat lekat m. rectus femoris
b.M. Articulatio Genu
Origo : permukaan depan femur bagian bawah
Insertio : permukaan atas dan samping capsula articularis sendi lutut
c.M. Pectineus:
Origo : Pecten ossis pubis
Fascia pectinea
Insertio : Linea pectinea femoris
d.M. Adductor longus:
Origo : Ramus superior ossis pubis
Insertio : Labium medialis linea asperae
e.M. Gracillis:
Origo : Ramus inferior ossis pubis
Inserti : Facies med. tibiae
f.M. Adductor brevis:
Origo : Ramus inferior ossis pibis
Insertio : Labium mediale lineae asperae
g.M. Adductor magnus:
Origo : Ramus inferior ossis pubis
Ramus inferior ossis ischii
Tuber ischiaadicum
Insertio : Labium mediale linea asperae, condylus medialis femoris
h.M. Adductor Minimus
Origo : Ramus inferior ossis pubis
Ramus inferior ossis pubis
Insertio : Labium mediale linea asperae
i.M. Semitendinosus:
Origo : Tuber ischiadicum
Insertio : Facies med. tibiae

j.M. Semimembranosus:
Origo : Tuber ischiadicum
Insertio : Simpai sendi lutut
k.M. Biceps femoris
Origo : Caput longum
Caput breve : labium laterale linea asperae
Insertio : Capitulum fibulae (bagian terbesar)
l. M. Tibialis Anterior
Origo : Condylus lateralis tibiae
Facies lateralis tibiae
Membrana interossea cruris
Fascia cruris
Insertio : Permukaan plantar os cuneiforme I
m. M. Gastroenimius
Origo : Caput mediale : Epicondylus medialis femoris
Caput laterale : Epicondylus lateralis femoris
Insertio : Tuber calcanei dengan perantaraan tendo calcanei (Achillei)
Gerakan Inti:
1. Tangan (Ekstremitas Atas)

Gerakan : Ekstentie (Tangan Kiri)
Torsio
Bidang : Transversal
Sumbu : Longitudinal
Pengungkit : Pengungkit I (G S B)
Sendi
Articulatio Humeri
a)Caput Humeri
b)Cavitas Glenoidalis
Articulatio Cubiti:
a)Articulatio Humeroradialis:
Capitulum Humeri dan Fovea Capituli Radii
b)Articulatio Humeroulnaris:
Trochlea Humeri dan Incisura Semiulnaris
c) Articulatio Radioulnaris Proximalis
Circumferentia Articularis Radii dan Incisura Radialis Ulnae
Otot
a. Musculus Deltoideus (Tangan Kiri)
Origo : Extrimitas Acromialis Claviculae Acromion
Inserto : Tuberositas Deltoidea Humeri
b. Musculus Biceps Brachii (Tangan Kanan)
Origo : Caput Longum : Tuberositas Supraglenoidalis
Caput Breve : Processus Coracoideus
Insertio : Tuberositas Radii

2. Kaki (Ekstremitas Bawah)

Gerakan
a. Flexie dan Extentie
b. Endorotatie (Kaki Kanan)
c. Exorotatie (Kaki Kiri)
Bidang : Transversal
Sumbu : Longitudinal
Pengungkit
a.Flexie : Pengungkit III (S G B)
b.Extentie : Pengungkit I (G S B)

Sendi
Articulatio Genu
a.Articulatio Meniscofemoralis Medialis
Meniscus dan Facies Articularis Inferior Condyli Medialis
b.Articulatio Meniscofemoralis Lateralis
Meniscus dan Facias Articularis Inferior Condyli Lateralis
c.Articulatio Meniscotibialis Medialis
Miniscus dan Facies Articularis Superior Condyli Medialis
d.Articulatio Meniscotibialis Lateralis
Meniscus dan Facies Articularis Superior Condyli Lateralis
e.Articulatio Femoropatellaris
Facies Patellaris
Facies Articularis Mediale dan Lateral Patella

Articulatio Talocruralis
a.Facies Articularis Malleoli Lateralis
Facies Articularis Mancolaris Lateralis
b. Facies Articularis Inferior
Trochlea Tali
c. Facies Articularis Malleoli Medialis
Facies Mallcolaris Medialis

Articulatio Metatarsophalangea
a.Capitulum Metatarsale
b.Basis Phalang I

Articulatio Interphalangea
a.Trochlea Phalang diatasnya
b.Basis Phalang dibawahnya

Articulatio Coxae
a.Caput Femoris
b.Acetabulum
Otot
a. M. Quadriceps Femoris
M. rectus femoris
Origo : caput rectum : spina iliaca anterior inferior
caput oblquum : sedikit diatas acetabulum
insertio : tuberositas tibiae dengan perantaraan lig. patellae
M. vastus medialis
Origo : bagian terbawah linea intertrochanterica labium mediale linea aspera
Insertio : pinggir medial urat lekat m. rectus femoris dan patella
M. vastus lateralis
Origo : permukaan depan dan bawah trochanter major
Insertio : pinggir lateral urat lekat m. rectus femoris dan patella
M. vastus intermedius
Origo : permukaan depan dan lateral femur
Insertio : urat lekat m. rectus femoris
b. M. Articulatio Genu
Origo : permukaan depan femur bagian bawah
Insertio : permukaan atas dan samping capsula articularis sendi lutut
c. M. Pectineus
Origo : pecten ossis pubis
fascia pectinea
Insertio : linea pectinea femoris
d. M. Adductor longus
Origo : ramus superior ossis pubis
Insertio : labium medialis linea asperae
e. M. Gracillis
Origo : ramus inferior ossis pubis
Insertio : facies med. tibiae
f. M. Adductor brevis
Origo : ramus inferior ossis pibis
Insertio : labium mediale lineae asperae
g. M. Adductor magnus:
Origo : ramus inferior ossis pubis
ramus inferior ossis ischii
tuber ischiaadicum
Insertio : labium mediale linea asperae, condylus medialis femoris
h. M. Adductor minimus:
Origo : ramus inferior ossis pubis
ramus inferior ossis pubis
Insertio : labium mediale linea asperae
i. M. Semitendinosus:
Origo : tuber ischiadicum
Insertio : facies med. tibiae
j. M. Semimembranosus:
Origo : tuber ischiadicum
Insertio : simpai sendi lutut
k. M. Biceps femoris
Origo : caput longum
caput breve : labium laterale linea asperae
Insertio : capitulum fibulae (bagian terbesar)
l. M. Tibialis Anterior
Origo : Condylus lateralis tibiae
Facies lateralis tibiae
Membrana interossea cruris
Fascia cruris
Insertio : Permukaan plantar os cuneiforme I
m. M. Gastroenimius
Origo : Caput mediale : Epicondylus medialis femoris
Caput laterale : Epicondylus lateralis femoris
Insertio : Tuber calcanei dengan perantaraan tendo calcanei (Achillei)

Gerakan Akhir:

1. Tangan

Gerakan
a.Flexie dan Extentie
b.Torsio
c.Endorotatie
d.Scapula : Protaksi
Bidang : Transversal
Sumbu : Longitudinal
Pengungkit
a.Extentie : Pengungkit I (G S B)
b.Flexie : Pengungkit III (S G B)
Sendi
Articulatio Humeri
c)Caput Humeri
d)Cavitas Glenoidalis
Articulatio Cubiti:
c)Articulatio Humeroradialis:
Capitulum Humeri dan Fovea Capituli Radii
d)Articulatio Humeroulnaris:
Trochlea Humeri dan Incisura Semiulnaris
c) Articulatio Radioulnaris Proximalis
Circumferentia Articularis Radii dan Incisura Radialis Ulnae
Otot
a. Musculus Deltoideus (Tangan Kiri)
Origo : Extrimitas Acromialis Claviculae Acromion
Inserto : Tuberositas Deltoidea Humeri
b. Musculus Biceps Brachii (Tangan Kanan)
Origo : Caput Longum : Tuberositas Supraglenoidalis
Caput Breve : Processus Coracoideus
Insertio : Tuberositas Radii

2. Kaki

Gerakan
a. Flexie dan Extentie
b. Endorotatie (Kaki Kanan)
c. Exorotatie (Kaki Kiri)
Bidang : Transversal
Sumbu : Longitudinal
Pengungkit
c.Flexie : Pengungkit III (S G B)
d.Extentie : Pengungkit I (G S B)

Sendi
Articulatio Genu
f.Articulatio Meniscofemoralis Medialis
Meniscus dan Facies Articularis Inferior Condyli Medialis
g.Articulatio Meniscofemoralis Lateralis
Meniscus dan Facias Articularis Inferior Condyli Lateralis
h.Articulatio Meniscotibialis Medialis
Miniscus dan Facies Articularis Superior Condyli Medialis
i.Articulatio Meniscotibialis Lateralis
Meniscus dan Facies Articularis Superior Condyli Lateralis
j.Articulatio Femoropatellaris
Facies Patellaris
Facies Articularis Mediale dan Lateral Patella

Articulatio Talocruralis
b.Facies Articularis Malleoli Lateralis
Facies Articularis Mancolaris Lateralis
b. Facies Articularis Inferior
Trochlea Tali
c. Facies Articularis Malleoli Medialis
Facies Mallcolaris Medialis

Articulatio Metatarsophalangea
c.Capitulum Metatarsale
d.Basis Phalang I

Articulatio Interphalangea
c.Trochlea Phalang diatasnya
d.Basis Phalang dibawahnya

Articulatio Coxae
c.Caput Femoris
d.Acetabulum
Otot
a. M. Quadriceps Femoris
M. rectus femoris
Origo : caput rectum : spina iliaca anterior inferior
caput oblquum : sedikit diatas acetabulum
insertio : tuberositas tibiae dengan perantaraan lig. patellae
M. vastus medialis
Origo : bagian terbawah linea intertrochanterica labium mediale linea aspera
Insertio : pinggir medial urat lekat m. rectus femoris dan patella
M. vastus lateralis
Origo : permukaan depan dan bawah trochanter major
Insertio : pinggir lateral urat lekat m. rectus femoris dan patella
M. vastus intermedius
Origo : permukaan depan dan lateral femur
Insertio : urat lekat m. rectus femoris
b. M. Articulatio Genu
Origo : permukaan depan femur bagian bawah
Insertio : permukaan atas dan samping capsula articularis sendi lutut
c. M. Pectineus
Origo : pecten ossis pubis
fascia pectinea
Insertio : linea pectinea femoris
d. M. Adductor longus
Origo : ramus superior ossis pubis
Insertio : labium medialis linea asperae
e. M. Gracillis
Origo : ramus inferior ossis pubis
Insertio : facies med. tibiae
f. M. Adductor brevis
Origo : ramus inferior ossis pibis
Insertio : labium mediale lineae asperae
g. M. Adductor magnus:
Origo : ramus inferior ossis pubis
ramus inferior ossis ischii
tuber ischiaadicum
Insertio : labium mediale linea asperae, condylus medialis femoris
h. M. Adductor minimus:
Origo : ramus inferior ossis pubis
ramus inferior ossis pubis
Insertio : labium mediale linea asperae
i. M. Semitendinosus:
Origo : tuber ischiadicum
Insertio : facies med. tibiae
j. M. Semimembranosus:
Origo : tuber ischiadicum
Insertio : simpai sendi lutut
k. M. Biceps femoris
Origo : caput longum
caput breve : labium laterale linea asperae
Insertio : capitulum fibulae (bagian terbesar)
l. M. Tibialis Anterior
Origo : Condylus lateralis tibiae
Facies lateralis tibiae
Membrana interossea cruris
Fascia cruris
Insertio : Permukaan plantar os cuneiforme I
m. M. Gastroenimius
Origo : Caput mediale : Epicondylus medialis femoris
Caput laterale : Epicondylus lateralis femoris
Insertio : Tuber calcanei dengan perantaraan tendo calcanei (Achillei)

Analisis Gerakan
Lempar Cakram

Untuk memenuhi tugas matakuliah
Kinesiologi
Yang dibina oleh Bapak Oni Bagus Januarto

Oleh
Fany Widyasari (107711407004)
Aditya Riki (107711407005)
Ika Retno Pratiwi (107711407006)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN PENDIDIKAN JASMANI dan KESEHATAN
Desember 2009
Lempar Cakram

Gerakan Awalan:
1.Tangan

Gerakan
a.Ayunan ke belakang (Ekstensi)
b.Ayunan ke depan (Flexi)
c.Rotasi:
Exorotatie
Endorotatie
d. Scapula:
Retrotraksi
Protaksi
Bidang : Transversal
Sumbu : Longitudinal
Pengungkit
Gerakan Ekstensi Pengungkit III (S G B)
Gerakan Flexie Pengungkit I (G S B)
Sendi
Articulatio Humeri
a)Caput Humeri
b)Cavitas Glenoidalis
Articulatio Cubiti:
a)Articulatio Humeroradialis:
Capitulum Humeri dan Fovea Capituli Radii
b)Articulatio Humeroulnaris:
Trochlea Humeri dan Incisura Semiulnaris
c) Articulatio Radioulnaris Proximali
Articulatio Carpometacarpea:
a)Os. Multangulum majus
b)Os. Metacarpale 1
Articulatio Metacerpophalangea:
a)Capitulum Metacarpal
b)Basis Phalang 1
Articulatio Interphalangea:
a)Trochlea Phalng dibawahnya
b)Basis Phalang diatasnya
Circumferentia Articularis Radii dan Incisura Radialis Ulnae
Articulatio Coxae
a)Caput Femoris
b)Acetabulum
Otot
a.Musculus Pectoralis Major
Origo : Pars Clavicularis pada Extremitas Sternalis Claviculae
Pars Sternalis pada Sternum dan Rawan Iga I – IV
Pars Abdominalis pada Vagina M. Recti Abdominis
Insertio : Crista Tuberculi Majoris
b. Musculus Deltoideus
Origo : Extrimitas Acromialis Claviculae Acromion
Inserto : Tuberositas Deltoidea Humeri
c. Musculus Biceps Brachii
Origo : Caput Longum : Tuberositas Supraglenoidalis
Caput Breve : Processus Coracoideus
Insertio : Tuberositas Radii

2.Kaki

Gerakan
a.Flexie
b.Extentie
Bidang : Transversal
Sumbu : Longitudinal
Pengungkit
a.Flexie Lutut : Pengungkit III (S G B)
b.Jinjit : Pengungkit II (S B G)
c.Extentie Lutut : Pengungkit I (G S B)
Sendi
Articulatio Genu
a.Articulatio Meniscofemoralis Medialis
Meniscus dan Facies Articularis Inferior Condyli Medialis
b.Articulatio Meniscofemoralis Lateralis
Meniscus dan Facias Articularis Inferior Condyli Lateralis
c.Articulatio Meniscotibialis Medialis
Miniscus dan Facies Articularis Superior Condyli Medialis
d.Articulatio Meniscotibialis Lateralis
Meniscus dan Facies Articularis Superior Condyli Lateralis
e.Articulatio Femoropatellaris
Facies Patellaris
Facies Articularis Mediale dan Lateral Patella

Articulatio Talocruralis
a. Facies Articularis Malleoli Lateralis
Facies Articularis Mancolaris Lateralis
b. Facies Articularis Inferior
Trochlea Tali
c. Facies Articularis Malleoli Medialis
Facies Mallcolaris Medialis
Otot
a.M. Quadriceps Femoris
M. Rectus Femoris
Origo : Caput Rectum : spina iliaca anterior inferior
Caput Obliquum : sedikit diatas acetabulum
insertio : Tuberositas tibiae dengan perantaraan lig. patellae
M. Vastus Medialis
Origo : Bagian terbawah linea intertrochanterica labium mediale linea aspera
Insertio : pinggir medial urat lekat m. rectus femoris dan patella
M. Vastus Lateralis
Origo : Permukaan depan dan bawah trochanter major
Insertio : Pinggir lateral urat lekat m. rectus femoris dan patella

M. Vastus Intermedius
Origo : permukaan depan dan lateral femur
Insertio : urat lekat m. rectus femoris
b.M. Articulatio Genu
Origo : permukaan depan femur bagian bawah
Insertio : permukaan atas dan samping capsula articularis sendi lutut
c.M. Pectineus:
Origo : Pecten ossis pubis
Fascia pectinea
Insertio : Linea pectinea femoris
d.M. Adductor longus:
Origo : Ramus superior ossis pubis
Insertio : Labium medialis linea asperae
e.M. Gracillis:
Origo : Ramus inferior ossis pubis
Inserti : Facies med. tibiae
f.M. Adductor brevis:
Origo : Ramus inferior ossis pibis
Insertio : Labium mediale lineae asperae
g.M. Adductor magnus:
Origo : Ramus inferior ossis pubis
Ramus inferior ossis ischii
Tuber ischiaadicum
Insertio : Labium mediale linea asperae, condylus medialis femoris
h.M. Adductor Minimus
Origo : Ramus inferior ossis pubis
Ramus inferior ossis pubis
Insertio : Labium mediale linea asperae
i.M. Semitendinosus:
Origo : Tuber ischiadicum
Insertio : Facies med. tibiae

j.M. Semimembranosus:
Origo : Tuber ischiadicum
Insertio : Simpai sendi lutut
k.M. Biceps femoris
Origo : Caput longum
Caput breve : labium laterale linea asperae
Insertio : Capitulum fibulae (bagian terbesar)
l. M. Tibialis Anterior
Origo : Condylus lateralis tibiae
Facies lateralis tibiae
Membrana interossea cruris
Fascia cruris
Insertio : Permukaan plantar os cuneiforme I
m. M. Gastroenimius
Origo : Caput mediale : Epicondylus medialis femoris
Caput laterale : Epicondylus lateralis femoris
Insertio : Tuber calcanei dengan perantaraan tendo calcanei (Achillei)
Gerakan Inti:
1. Tangan (Ekstremitas Atas)

Gerakan : Ekstentie (Tangan Kiri)
Torsio
Bidang : Transversal
Sumbu : Longitudinal
Pengungkit : Pengungkit I (G S B)
Sendi
Articulatio Humeri
a)Caput Humeri
b)Cavitas Glenoidalis
Articulatio Cubiti:
a)Articulatio Humeroradialis:
Capitulum Humeri dan Fovea Capituli Radii
b)Articulatio Humeroulnaris:
Trochlea Humeri dan Incisura Semiulnaris
c) Articulatio Radioulnaris Proximalis
Circumferentia Articularis Radii dan Incisura Radialis Ulnae
Otot
a. Musculus Deltoideus (Tangan Kiri)
Origo : Extrimitas Acromialis Claviculae Acromion
Inserto : Tuberositas Deltoidea Humeri
b. Musculus Biceps Brachii (Tangan Kanan)
Origo : Caput Longum : Tuberositas Supraglenoidalis
Caput Breve : Processus Coracoideus
Insertio : Tuberositas Radii

2. Kaki (Ekstremitas Bawah)

Gerakan
a. Flexie dan Extentie
b. Endorotatie (Kaki Kanan)
c. Exorotatie (Kaki Kiri)
Bidang : Transversal
Sumbu : Longitudinal
Pengungkit
a.Flexie : Pengungkit III (S G B)
b.Extentie : Pengungkit I (G S B)

Sendi
Articulatio Genu
a.Articulatio Meniscofemoralis Medialis
Meniscus dan Facies Articularis Inferior Condyli Medialis
b.Articulatio Meniscofemoralis Lateralis
Meniscus dan Facias Articularis Inferior Condyli Lateralis
c.Articulatio Meniscotibialis Medialis
Miniscus dan Facies Articularis Superior Condyli Medialis
d.Articulatio Meniscotibialis Lateralis
Meniscus dan Facies Articularis Superior Condyli Lateralis
e.Articulatio Femoropatellaris
Facies Patellaris
Facies Articularis Mediale dan Lateral Patella

Articulatio Talocruralis
a.Facies Articularis Malleoli Lateralis
Facies Articularis Mancolaris Lateralis
b. Facies Articularis Inferior
Trochlea Tali
c. Facies Articularis Malleoli Medialis
Facies Mallcolaris Medialis

Articulatio Metatarsophalangea
a.Capitulum Metatarsale
b.Basis Phalang I

Articulatio Interphalangea
a.Trochlea Phalang diatasnya
b.Basis Phalang dibawahnya

Articulatio Coxae
a.Caput Femoris
b.Acetabulum
Otot
a. M. Quadriceps Femoris
M. rectus femoris
Origo : caput rectum : spina iliaca anterior inferior
caput oblquum : sedikit diatas acetabulum
insertio : tuberositas tibiae dengan perantaraan lig. patellae
M. vastus medialis
Origo : bagian terbawah linea intertrochanterica labium mediale linea aspera
Insertio : pinggir medial urat lekat m. rectus femoris dan patella
M. vastus lateralis
Origo : permukaan depan dan bawah trochanter major
Insertio : pinggir lateral urat lekat m. rectus femoris dan patella
M. vastus intermedius
Origo : permukaan depan dan lateral femur
Insertio : urat lekat m. rectus femoris
b. M. Articulatio Genu
Origo : permukaan depan femur bagian bawah
Insertio : permukaan atas dan samping capsula articularis sendi lutut
c. M. Pectineus
Origo : pecten ossis pubis
fascia pectinea
Insertio : linea pectinea femoris
d. M. Adductor longus
Origo : ramus superior ossis pubis
Insertio : labium medialis linea asperae
e. M. Gracillis
Origo : ramus inferior ossis pubis
Insertio : facies med. tibiae
f. M. Adductor brevis
Origo : ramus inferior ossis pibis
Insertio : labium mediale lineae asperae
g. M. Adductor magnus:
Origo : ramus inferior ossis pubis
ramus inferior ossis ischii
tuber ischiaadicum
Insertio : labium mediale linea asperae, condylus medialis femoris
h. M. Adductor minimus:
Origo : ramus inferior ossis pubis
ramus inferior ossis pubis
Insertio : labium mediale linea asperae
i. M. Semitendinosus:
Origo : tuber ischiadicum
Insertio : facies med. tibiae
j. M. Semimembranosus:
Origo : tuber ischiadicum
Insertio : simpai sendi lutut
k. M. Biceps femoris
Origo : caput longum
caput breve : labium laterale linea asperae
Insertio : capitulum fibulae (bagian terbesar)
l. M. Tibialis Anterior
Origo : Condylus lateralis tibiae
Facies lateralis tibiae
Membrana interossea cruris
Fascia cruris
Insertio : Permukaan plantar os cuneiforme I
m. M. Gastroenimius
Origo : Caput mediale : Epicondylus medialis femoris
Caput laterale : Epicondylus lateralis femoris
Insertio : Tuber calcanei dengan perantaraan tendo calcanei (Achillei)

Gerakan Akhir:

1. Tangan

Gerakan
a.Flexie dan Extentie
b.Torsio
c.Endorotatie
d.Scapula : Protaksi
Bidang : Transversal
Sumbu : Longitudinal
Pengungkit
a.Extentie : Pengungkit I (G S B)
b.Flexie : Pengungkit III (S G B)
Sendi
Articulatio Humeri
c)Caput Humeri
d)Cavitas Glenoidalis
Articulatio Cubiti:
c)Articulatio Humeroradialis:
Capitulum Humeri dan Fovea Capituli Radii
d)Articulatio Humeroulnaris:
Trochlea Humeri dan Incisura Semiulnaris
c) Articulatio Radioulnaris Proximalis
Circumferentia Articularis Radii dan Incisura Radialis Ulnae
Otot
a. Musculus Deltoideus (Tangan Kiri)
Origo : Extrimitas Acromialis Claviculae Acromion
Inserto : Tuberositas Deltoidea Humeri
b. Musculus Biceps Brachii (Tangan Kanan)
Origo : Caput Longum : Tuberositas Supraglenoidalis
Caput Breve : Processus Coracoideus
Insertio : Tuberositas Radii

2. Kaki

Gerakan
a. Flexie dan Extentie
b. Endorotatie (Kaki Kanan)
c. Exorotatie (Kaki Kiri)
Bidang : Transversal
Sumbu : Longitudinal
Pengungkit
c.Flexie : Pengungkit III (S G B)
d.Extentie : Pengungkit I (G S B)

Sendi
Articulatio Genu
f.Articulatio Meniscofemoralis Medialis
Meniscus dan Facies Articularis Inferior Condyli Medialis
g.Articulatio Meniscofemoralis Lateralis
Meniscus dan Facias Articularis Inferior Condyli Lateralis
h.Articulatio Meniscotibialis Medialis
Miniscus dan Facies Articularis Superior Condyli Medialis
i.Articulatio Meniscotibialis Lateralis
Meniscus dan Facies Articularis Superior Condyli Lateralis
j.Articulatio Femoropatellaris
Facies Patellaris
Facies Articularis Mediale dan Lateral Patella

Articulatio Talocruralis
b.Facies Articularis Malleoli Lateralis
Facies Articularis Mancolaris Lateralis
b. Facies Articularis Inferior
Trochlea Tali
c. Facies Articularis Malleoli Medialis
Facies Mallcolaris Medialis

Articulatio Metatarsophalangea
c.Capitulum Metatarsale
d.Basis Phalang I

Articulatio Interphalangea
c.Trochlea Phalang diatasnya
d.Basis Phalang dibawahnya

Articulatio Coxae
c.Caput Femoris
d.Acetabulum
Otot
a. M. Quadriceps Femoris
M. rectus femoris
Origo : caput rectum : spina iliaca anterior inferior
caput oblquum : sedikit diatas acetabulum
insertio : tuberositas tibiae dengan perantaraan lig. patellae
M. vastus medialis
Origo : bagian terbawah linea intertrochanterica labium mediale linea aspera
Insertio : pinggir medial urat lekat m. rectus femoris dan patella
M. vastus lateralis
Origo : permukaan depan dan bawah trochanter major
Insertio : pinggir lateral urat lekat m. rectus femoris dan patella
M. vastus intermedius
Origo : permukaan depan dan lateral femur
Insertio : urat lekat m. rectus femoris
b. M. Articulatio Genu
Origo : permukaan depan femur bagian bawah
Insertio : permukaan atas dan samping capsula articularis sendi lutut
c. M. Pectineus
Origo : pecten ossis pubis
fascia pectinea
Insertio : linea pectinea femoris
d. M. Adductor longus
Origo : ramus superior ossis pubis
Insertio : labium medialis linea asperae
e. M. Gracillis
Origo : ramus inferior ossis pubis
Insertio : facies med. tibiae
f. M. Adductor brevis
Origo : ramus inferior ossis pibis
Insertio : labium mediale lineae asperae
g. M. Adductor magnus:
Origo : ramus inferior ossis pubis
ramus inferior ossis ischii
tuber ischiaadicum
Insertio : labium mediale linea asperae, condylus medialis femoris
h. M. Adductor minimus:
Origo : ramus inferior ossis pubis
ramus inferior ossis pubis
Insertio : labium mediale linea asperae
i. M. Semitendinosus:
Origo : tuber ischiadicum
Insertio : facies med. tibiae
j. M. Semimembranosus:
Origo : tuber ischiadicum
Insertio : simpai sendi lutut
k. M. Biceps femoris
Origo : caput longum
caput breve : labium laterale linea asperae
Insertio : capitulum fibulae (bagian terbesar)
l. M. Tibialis Anterior
Origo : Condylus lateralis tibiae
Facies lateralis tibiae
Membrana interossea cruris
Fascia cruris
Insertio : Permukaan plantar os cuneiforme I
m. M. Gastroenimius
Origo : Caput mediale : Epicondylus medialis femoris
Caput laterale : Epicondylus lateralis femoris
Insertio : Tuber calcanei dengan perantaraan tendo calcanei (Achillei)

Analisis Gerakan
Lempar Cakram

Untuk memenuhi tugas matakuliah
Kinesiologi

Rabu, 07 April 2010

Sport Massage

A.Sejarah Perkembangan Sports Massage
Sport Massage / pijat olahraga sampai saat ini masih dipakai dibelahan dunia khususnya dikalangan olahragawan dan dunia kesehatan. Massage sendiri merupakan salah satu bentukmanipulasi / teknik melulut atau memijat sederhana yang pertama-tama ditemukan manusia untuk meringankan rasa sakit dan menghasilkan efek lebih baik / kesembuhan dengan cara mengelus-elus/ mengusap perlahan dan halus secara spontan pada sekitar bagian yang sakit.
Data pasti siapa penemu sport massage pertama kali tidak diketahui, berkembang dibanyak negara seperti Cina, India, Yunani, Mesir dan banyak negara lain sehingga berkembang sampai menjadi kebudayaan yang tinggi.
Dalam perkembangannya tidak hanya berfungsi sebagai sarana pemeliharaan tubuh saja tetapi juga sebagai terapi pengobatan .
Pertamakali sport massage diperkenalkan dan diaplikasikan untuk para olahragawan adalah negara Yunani dengan maksud untuk menjaga tingkat kebugaran para olahragawan. Di Cina sekitar tahun 3000 SM khususnya dunia kedokteran tradisional, sport massage bertujuan untuk mengaktifkan sirkulasi darah dan hormonal, sebagai alat penenang (sedative), perangsang persyarafan dan sebagai sarana pengobatan bermacam penyakit. Di Mesir kuno masih tercatat didinding bahwa massage merupakan metode pengobatan penyakit atau luka akibat kecelakaan atau peperangan (tercatat pada dokumen raja Fir’aun di relief, papyrus dan pada dinding gambar). Herodicos seorang dokter dan pesenam Yunani menceritakan tentang pengaruh senam pengobatan dan latihan fisik serta massage dengan tujuan menyehatkan jiwa dan raga. Hipocrates seorang dokter dalam kedokteran modern mengenal dan mempelajari sport massage pada Herodicos dan menulis tentang pengaruh sport massage pada system fisiologis tubuh khususnya pada pasien luksasi / keseleo, fraktur / patah tulang dan pasien lain serta sport massage akan membuat system persendian akan menjadi kuat dan kemudahan untuk memobilisasi / menggerakkan persendian yang kaku. Para dokter Yunani menggunakan sport massage untuk mempersiapkan fisik olahragawan sebelum bertanding dan untuk melawan tingkat kelelahan setelah latihan fisik yang berat. Para Aliptes / ahli massage olahraga biasa menggunakan minyak dan powder / tepung atau talk untuk memanipulasi / melulut atau memijat otot-otot olahragawan sedangkan olahragawan sendiri juga dibekali dengan ketrampilan sport massage mandiri / Automassage.


B.Pengertian Sport Massage

Sport Massage merupakan teknik memijat / melulut dengan tangan (manipulasi) pada bagian tubuh yang lunak dengan prosedur manual ataupun mekanik yang dilaksanakan secara metodik dan ritmis dengan tujuan untukmenghasilkan efek efek fisiologis , profilaktikdan terapeutik / pengobatan pada tubuh.
Manipulasi ini dilakukan secara sistematis dan berurutan sesuai dengan anatomi tubuh manusia yaitu dari permukaan otot kearah dalam bagian tubuh yang lunak /mucous dan jaringan dibawah kulit (konjunktiva) dan lapisan lemak , perototan , pembuluh darah , jaringan persyarafan periferis/ syaraf tepi dan jaringan lain serta organ tubuh bagian dalam. Ada dua macam prosedur sport massage , secara manual dan mekanik.
Prosedur sport massage manual merupakan manipulasi sport massage yang dikenal dengan bermacam-macam gerakan tangan pada permukaan tubuh dengan tekanan gerakan kearah dalam yaitu menekan , memeras, pukulan, goncangan , getaran dan manipulasi lain pada jaringan dan pada segmen . Prosedur manual ini merupakan prosedur yang sangat tua , tersebar dan paling banyak digunakan karena dengan gerakan tangan manusia akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan struktur anatomi tubuh dan gerakan tangan ini akan lebih sempurna dibandingkan dengan gerakan alat mesin.
Prosedur sport massage mekanik , ini dilakukan gerakan sport massage dengan bantuan gerakan mesin pemijat . Bagaimanapun bagusnya alat massage / mesin pemijat tersebut tingkat adaptasi dengan struktur tubuh manusia akan tidak sama dengan gerakan tangan secara manual.


Prosedur Terapi Manual Sport Massage

A. Sistematika Manipulasi Pokok (Teknik sport massage yang harus dilakukan)


MANIPULASI POKOK
1 EFFLEURAGE (pembuka)
2 PETRISAGE
3 FRICTION
4 TAPOTAMENT
5 VIBRATION
6 EFFLEURAGE (penutup)

MANIPULASI TAMBAHANSAPUAN
7 CABIKAN
8 SHIATSU
9 TARIKAN
10 REGANGAN


PERUNTUKKAN THERAPI SPORTS MASSAGE
A.Sport Massage untuk Jaringan dan Organisme
Sport massage ini sangat bermanfaat untuk proses pertumbuhan dan perkembangan serta rehabilitasi jaringan dan organisme tubuh.
JARINGAN
Kulit
Konjunktiva
Otot, Tendon
Articulatio /sendi
Periost /jaringan yang sedikit
Vaskulair
Syaraf
ORGANISME
Kepala
Leher
Dada / Thorax
Perut / abdominalis
B.Sport massage untuk pertandingan dan prestasi
Sport massage untuk pertandingan dan prestasi ini mencakup :
1. Sport massage pra competition
Sport massage ini diberikan sebelum atlet melakukan
pertandingan
sebagai bentuk warming-up pasif
2. Sport massage during competition
Sport massage ini diberikan selama atlet melakukan
serangkaian
Pertandingan atau saat istirahat pertandingan
3. Sport massage post competition
Sport massage ini diberikan setelah atlet menjalani masa
pertandingan.
C.Sport massage bermacam aktivitas olahraga
a.tes kekuatan e.senam
b.tes daya tahan f.olahraga permainan
c.tes kecepatan g.kegiatan pariwisata
d.tes kecakapan/skill h.olahraga lain
D.Manfaat terapi sport massage
Sport massage untuk - higiene
- terapeutik
- cedera persendian
- schele luka memar dan luka
- schele fraktur
- cedera otot dan tendon dan cedera syaraf
Pengaruh terapi sport massage :
Terhadap jaringan - kulit
- jaringan konjunktiva
- elemen alat penyokong dan alat gerak
- sirkulasi darah dan lymphe
- system persyarafan
- jaringan dalam dan organ dalam
(Sportmassage Deventer (sport-) blessures bestrijden en voorkomen_files)


MANFAAT DAN TUJUAN MANIPULASI SPORT MASSAGE :

1`.EFFLEURAGE /STROKING : melulut atau menggosok

Menggunakan jari tangan, telapak tangan, buku tangan ataupun punggung tangan . Gerakan melulut ini selalu kearah jantung, dilakukan secara kontinyu dengan tekanan menyesuaikan. Tekanan lemah bila dilakukan untuk kulit dan agak keras sampai keras untuk jaringan bawah kulit(subcutant). Tujuan diberikan effleurage adalah untuk menetapkan kontak fisik dengan pasien agar tidak terasa asing, berdampak positif secara fisiologis dengan mempercepat pergantian metabolisme dan sangat cocok untuk treatment kecantikan.
2. PETRISAGE /KNEADING :meremas
Meremas dengan jari dan tangan dimulai mengangkat, menjepit jaringan otot , mencomot dan meremas. Gerakan meremas dilakukan secara bergantian antara tangan kanan dan kiri. Tujuan manipulasi ini untuk mengembangkan elastisitas, mengaktifkan aliran darah, memperbaiki pergantian nutrisi dan pembuangan(ekskresi), merangsang syaraf motorik,
memperbaiki fungsi otot dan sangat bagus untuk olahragawan dan pekerja keras.

3. FRICTION /RUBBING :gerusan

Menggerus dengan menggunakan jari jempol (jari yang paling kuat), kepalan tangan, pangkal telapak tangan atau dengan siku tangan.
Bertujuan untuk melancarkan system sirkulasi darah, menimbulkan hiperamia, pembesaran serabut otot dari refleks vaskuler, hormonal dan syaraf, baik untuk schele post trauma(regenerasi jaringan) dan akan mengurangi rasa nyeri otot.

4.TAPOTAMENT : pukulan

Pukulan secara beruntun dan berirama dengan menggunakan pisau tangan, kepalan tangan atau menguncupkan kedua telapak tangan.
Bertujuan untuk meningkatkan sirkulasi darah , meningkatkan pengeluaran nafas (ekspirasi),meningkatkan syaraf vasomotor, menimbulkan suara khas teknik sport massage dan teknik ini jangan diberikan pada otot yang terasa nyeri ataupost traumatic.

5.VIBRATION : getaran

Menggerakkan otot-otot dengan menggetarkan dengan ujung-ujung jari tangan , buku-buku tangan dan pangkal telapak tangan.
Bertujuan untuk meningkatkan rasa aman dan ketenangan (sedative) dan sangat berguna untuk proses relaksasi.

6.SHAKING : goncangan

Menggoncang-goncangkan sekelompok otot dengan pisau tangan atau dengan telapak tangan secara berurutan antara tangan kanan dan kiri.Bertujuan untuk merelaksasikan otot, merangsang syaraf motorik, mempercepat aliran darah, dan sangat efektif untuk mengatasi kram otot.
7.SHIATSU : menekan
Menekan sekelompok otot dengan ibu jari atau dengan dua ibu jari , dengan kepalan tangan atau dengan siku tangan.
Bertujuan untuk meningkatkan pervusi darah / aliran darah dan sangat bagus untuk meningkatkan / menaikkan tekanan darah serta untuk mengecek kekuatan otot.

8. CABIKAN
Hampir Sama dengan gerakan petrisage hanya gerakan cabikan ini lebih cepat dan hanya menggunakan ujung jari tangan saja.
Bertujuan untuk mempercepat sirkulasi darah, sangat bagus untuk hipotensi.
9.SAPUAN

Gerakan menyapu secara bolak balik dengan menggunakan ujung jari tangan terutama pada daerah punggung (posterior), dilakukan secara berirama cepat dan bisa secara tidak beraturan gerak sapuannya.
Bertujuan untuk meningkatkan sirkulasi darah dengan cepat dan sangat efektif untuk penderita hipotensi.
10.TARIKAN
Gerakan menarik jari-jari tangan dan kaki, lengan bawah dan atas, tungkai bawah dan tungkai atas. Bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas persendian.

11.PEREGANGAN

Gerakan meregangkan (stretching) otot-otot tertentu dengan maksud untuk mengefektifkan penanganan cedera otot, sebagai sarana warming-up dan cooling down.

BERMACAM KEGUNAAN TERAPI SPORT MASSAGE

TERAPI SPORT MASSAGE BAGIAN KEPALA

Perlakuan sport massage bagian kepala diberikan dengan menyesuaikan anatomis kepala .
Frontalis : perlakuan pada bagian dahi /depan
Lateralis/temporalis : bagian samping kepala
Posterior/occipitalis : bagian atas
Manipulasi yang diberikan adalah Effleurage, friction, tapotament ringan, vibration dan shaking.

TERAPI SPORT MASSAGE BAGIAN LEHER

Terdiri dari dua bagian yaitu bagian muka /anterior dan bagian belakang /posterior. Pada region ini terdapat organ yang penting seperti :trachea, esophagus, pembuluh darah besar (arteri carotic, vena jugularis), saluran limphe dan persyarafan, kelenjar ganglion lymphe cervical dan kelenjar thyroid dan parathyroid.
Leher bagian muka menggunakan manipulasi Effleurage, friction ringan, petrisage dan vibration. Leher bagian belakang menggunakan manipulasi effleurage, friction, petrisage, cincang/cabik dan vibration.
(khusus leher bagian belakang perlakuannya sampai pundak)
TERAPI SPORT MASSAGE BAGIAN THORAX /DADA
Bertujuan Merangsang system respirasi biasanya karena masalah asmatis, sesak nafas atau nyeri dada. Menggunakan manipulasi effleurage, friction, cincang/cabikan, tapotament, vibration dan shaking.
TERAPI SPORT MASSAGE BAGIAN ABDOMINAL /PERUT
Pada bagian ini diberlakukan manipulasi yang agak ringan tekanannya. Dengan manipulasi effleurage, petrisage, friction ringan dan shaking ringan.
Bertujuan untuk meringankan gangguan di perut seperti sembelit dan sakit perut lainnya serta membantu menghilangkan lemak di otot perut.
SPORT MASSAGE UNTUK PRESTASI DAN PERTANDINGAN
Perlakuan sport massage untuk prestasi dan pertandingan perlakuannya akan berbeda dengan perlakuan pasien. Karena tingkat kebugaran olahragawan ini lebih tinggi dibandingkan dengan pasien maka manipulasi yang diberikan akan lebih keras dan lebih cepat.
a.Sport massage pra competition

Sport massage yang dilakukan sebelum masa pertandingan dan sebagai massage persiapan pertandingan. Maksudnya untuk meningkatkan derajat suhu tubuh dan mempersiapkan otot-otot dan persendian atau pemanasan /warming-up.Manipulasi yang diberikan adalah friction yang kuat, petrisage , vibration dan shaking yang kuat.

b.Sport massage in competition/during competititon

Selama masa pertandingan sport massage ini diberikan misalnya saat jeda tanding, saat mengalami gangguan otot atau sendi misalnya kram otot.
Tujuannnya untuk tetap mengaktifkan system sirkulasi darah dan oksigenasi dan menghilangkan tumpukan asam laktat. Manipulasi yang diberikan adalah shaking kuat, tapotament kuat dan shaking kuat.
c.Sport massage post competition

Sport massage ini diberikan setelah melakukan masa pertandingan dengan maksud untuk merelaksasi otot dan persendian yang telah bekerja keras. Manipulasi yang diberikan adalah general sport massage /massage seluruh tubuh.
TERAPI SPORT MASSAGE UNTUK JARINGAN DAN ORGANISME
TERAPI SPORT MASSAGE UNTUK KULIT
Bertujuan untuk mengaktifkan sirkulasi darah, elastisitas kulit dan perangsangan syaraf. Manipulasi yang diberikan adalah effleurage, friction, vibration dan tapotament.
Effleurage => perlakuan selama 10 – 20 menit akan mengaktifkan
system sirkulasi kulit,
memperbesar sirkulasi darah permukaan dan
bagian dalam, merangsang pergantian dan
pengaturan sirkulasi lymphe dan hormonal serta
untuk kebersihan dan kesegaran kulit.
Friction => akan melatih fleksibilitas dan elastisitas kulit,
memobilisasi jaringan kulit dan merangsang sirkulasi
pergantian dan ekskresi.
Tapotament => akan merangsang syaraf motorik dan syaraf sensitife.
Vibration => sangat bagus untuk sirkulasi local dan pengeluaran
sisa metabolisme.